4 Mar 2012

Software ‘Gratis’, Etika dan Moral Bangsa Terkikis

Author: Petrus Hartanto Widyatmoko | Filed under: Umum

Software atau perangkat lunak merupakan sekumpulan data elektronik yang tersusun atas instruksi-instruksi dalam bentuk bahasa pemrograman untuk melakukan tugas tertentu.  Pada umumnya, software merupakan salah satu komponen utama penyusun komputer. Seiring berkembangnya komputer, software yang tersedia juga semakin beragam, mulai dari antivirus, browser, plugin, system tuning, audio, video dan sebagainya. Ada yang berbasis software gratis (freeware) dan software yang hanya untuk dicoba dalam beberapa hari (shareware). Untuk shareware biasanya disediakan jangka waktu selama 30 hari mencoba software tersebut. Setelah jangka waktu habis, pengguna akan diberi peringatan maupun instruksi untuk membayar/membeli software tersebut agar dapat menggunakannya dalam kurun waktu lebih lama lagi. Hal tersebut menyebabkan banyak orang memilih jalan pintas dalam mendapatkan software yang diinginkan secara ilegal.

Daftar Negara Pembajak Software Bulan September 2011

Dewasa ini, penggunaan software ilegal atau bisa kita sebut software ‘gratis’ semakin marak terjadi di seluruh belahan dunia. Berdasarkan laporan hasil survey yang dirilis oleh Business Software Alliance (BSA) seperti yang dilansir vivanews.com, Indonesia menempati urutan ke 7 dari 32 negara sebagai pengguna software ‘gratis’ pada tahun 2011. Data tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia seolah kurang memahami betapa pentingnya penghargaan atas Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Akibatnya, etika dan moral bangsa Indonesia dalam dunia teknologi patut dipertanyakan.

Dilihat dari segi ekonomi, Indonesia merupakan suatu negara yang sebagian besar penduduknya berperekonomian menengah kebawah. Sehingga kebanyakan orang tidak mampu membeli software asli yang harganya diatas rata-rata perekonomian Indonesia dan lebih memilih menggunakan software ‘gratis’. Namun tak jarang juga mereka yang berperekonomian menengah keatas tidak ingin membeli software asli karena software ‘gratis’ sudah banyak tersedia di Internet. Hanya dengan bantuan crack atau keygen dan sedikit sentuhan, maka *simsalabim..!!!*, software ‘gratis’ sudah terinstal secara penuh di dalam komputer tanpa harus membayar ataupun membelinya.

Tindakan semacam ini jelas-jelas bertentangan dengan etika dan moral. Secara etika dalam bidang IT, penyalahgunaan software merupakan tindakan yang melanggar nilai-nilai dan pedoman dalam pemakaian software. Dan secara moral, tindakan tersebut juga bertentangan dengan moral bangsa Indonesia dimana bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar, bangsa yang saling menghargai hak-hak atas individu maupun kelompok. Namun beginilah kenyataannya, entah benar-benar karena kondisi ekonomi bangsa Indonesia yang tak sebanding untuk membeli software asli atau karena etika & moral bangsa Indonesia yang sudah mulai terkikis oleh jaman. Mari kita renungkan melalui pribadi kita masing-masing, saudaraku… 😉

referensi :

http://teknologi.vivanews.com/news/read/245340-indonesia-urutan-ketujuh-pembajak-software

Leave a Reply